Bandung (06/06) – Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Jawa Barat (BBGTK Jabar) menyelenggarakan Seminar Inclusive Education: Empowering Teachers to Create Inclusive Learning Environments bertempat di Auditorium Rempug Jukung BBGTK Provinsi Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 180 peserta secara luring dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube BBGTK Jabar untuk menjangkau peserta yang lebih luas.
Seminar ini dibuka secara langsung oleh Kepala BBGTK Jabar, Dr. Sugito Adiwarsito, M.Pd.Or. didampingi Kepala Bagian Umum BBGTK Jabar, Rohimat, S.T., M.A. Kegiatan tersebut menjadi wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait praktik pendidikan inklusif yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang adil, aman, dan mendukung keberagaman kebutuhan peserta didik.
Dalam sambutannya, Dr. Sugito menegaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan salah satu upaya penting untuk memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama dalam mengakses pendidikan yang berkualitas. Menurutnya, guru memiliki peran strategis dalam menciptakan ruang belajar yang menghargai perbedaan dan mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik.
“Pendidikan inklusif bukan hanya tentang memberikan akses belajar kepada semua peserta didik, tetapi juga memastikan setiap anak merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensinya. Melalui seminar ini, kami berharap para pendidik dapat memperkuat pemahaman serta praktik pembelajaran yang lebih inklusif di satuan pendidikan masing-masing,” tuturnya.
Seminar menghadirkan Education Counselor Embassy of the Republic of Turkey in Jakarta, Associate Professor Dr. Selman Özdan, sebagai pembicara kunci. Selain itu, seminar turut menghadirkan Dr. Zeycan Özdan, M.Ed., PhD. dari Odokuz Mayis University sebagai narasumber yang membahas strategi pembelajaran inklusif serta penguatan kapasitas guru dalam menghadapi keragaman karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik di kelas.
Dalam paparannya, Zeycan Özdan menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kesiapan guru dalam membangun lingkungan belajar yang fleksibel dan responsif. “Setiap peserta didik memiliki cara belajar yang unik. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan pendekatan yang adaptif sehingga seluruh peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif dan merasakan pengalaman belajar yang bermakna,” jelasnya.
Melalui penyelenggaraan seminar ini, BBGTK Jabar berharap para peserta memperoleh wawasan, inspirasi, serta praktik-praktik baik yang dapat diterapkan di lingkungan pendidikan masing-masing. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi pendidik dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berpihak pada kebutuhan seluruh peserta didik. *FA
